Revitalisasi Sekolah 2026 Tak Sekadar Bangun Gedung, Tapi Gerakkan Ekonomi dan Gotong Royong Masyarakat

07 July 2026
2 menit baca
Revitalisasi Sekolah 2026 Tak Sekadar Bangun Gedung, Tapi Gerakkan Ekonomi dan Gotong Royong Masyarakat

Bintan, PUBHUM BPMP Kepri – Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 tidak hanya berfokus pada pembangunan dan perbaikan sarana prasarana sekolah, tetapi juga dirancang untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Melalui pendekatan swakelola yang melibatkan masyarakat, pemerintah berharap program ini mampu meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menggerakkan roda perekonomian di daerah.hal ini disampaikan oleh Fauzan Azim dalam kegiatan Komunitas Belajar (Kombel) Pegawai BPMP Kepulauan Riau yang dilaksanakan pada 6 Juli 2026 di Aula Engku Haji Tua BPMP Kepulauan Riau.

Program yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang Percepatan Pelaksanaan Program Pembangunan dan Revitalisasi Satuan Pendidikan serta Digitalisasi Pembelajaran. Salah satu pembeda utama program ini adalah pelaksanaan revitalisasi dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pembangunan.

Melalui mekanisme tersebut, sekolah tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pusat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. Keterlibatan masyarakat diharapkan mampu meningkatkan rasa memiliki terhadap sekolah, memperkuat tanggung jawab bersama dalam menjaga fasilitas pendidikan, serta mendorong efisiensi penggunaan anggaran.

Selain meningkatkan kualitas layanan pendidikan, program revitalisasi juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Anggaran revitalisasi yang disalurkan langsung kepada satuan pendidikan akan digunakan untuk kebutuhan pembangunan, seperti pembelian material bangunan, penggunaan tenaga kerja lokal, hingga berbagai kebutuhan operasional yang melibatkan pelaku usaha di sekitar sekolah. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh warga sekolah, tetapi juga masyarakat di lingkungan sekitar.

Pemerintah memperkirakan pelaksanaan revitalisasi akan membuka peluang kerja bagi jutaan Hari Orang Kerja (HOK) serta memberikan dampak ekonomi di ribuan desa dan kecamatan melalui pemberdayaan tenaga kerja lokal, penyedia material bangunan, hingga pelaku usaha kecil yang mendukung kegiatan pembangunan. Hal ini menunjukkan bahwa investasi pada sektor pendidikan juga mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, pelaksanaan pembangunan dirancang agar tidak mengganggu proses belajar mengajar di sekolah. Untuk itu, dibentuk Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) yang berasal dari unsur masyarakat dan didukung oleh Tim Teknis yang bertugas menyusun perencanaan serta mengawasi pelaksanaan pembangunan. Dengan mekanisme tersebut, kepala sekolah dan guru tetap dapat fokus menjalankan tugas utamanya, yaitu memberikan layanan pembelajaran kepada peserta didik.

Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026, pemerintah menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya diukur dari berdirinya gedung-gedung baru, tetapi juga dari tumbuhnya semangat gotong royong, meningkatnya partisipasi masyarakat, dan terciptanya manfaat ekonomi yang dirasakan secara langsung. Dengan kolaborasi seluruh pihak, revitalisasi diharapkan mampu menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan berkualitas bagi generasi penerus bangsa.